Setara Institute: Bogor dan Bekasi kota paling intoleran di Indonesia

“Teman-teman tahu Bogor dalam beberapa waktu ini banyak kejadian-kejadian buruk, misalnya (rencana relokasi) GKI Yasmin, (larangan perayaan Asyuro bagi penganut) Syiah (yang dikeluarkan oleh Walikota Bogor),” ujar Bonar.

Bahkan ada kabar bahwa pertemuan Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) akan diadakan di gedung Wali Kota Bogor, ungkapnya.

“Bagaimana mungkin pemerintah memfasilitasi kelompok-kelompok intoleran?” ujar Bonar.

Laporan tentang indeks kota toleran ini adalah laporan pertama Setara Institute yang disusun dengan memeriksa 4 variabel di 94 kota di Indonesia. 

Variabel tersebut adalah regulasi pemerintah (RPJMD dan perda diskriminatif), tindakan pemerintah (pernyataan dan respon dari pemerintah terhadap kebebasan beragama/berkeyakinan), peristiwa intoleransi, dan demografi agama (komposisi penduduk berdasarkan agama).

“Kita berharap melalui media masa, (indeks ini) jadi evaluasi dan warning agar pemerintah kota melihat apakah kebijakan mereka memang sudah melakukan perlakukan yang setara terhadap kelompok-kelompok yang berbeda,” ujar Bonar. 

“Saran kami sebaiknya Menteri Dalam Negeri (Tjahjo Kumolo) memberikan perhatian terhadap temuan ini dan Mendagri mengambil langkah untuk koordinasi dengan pemerintah kota ini agar ada upaya lebih serius dalam perbaikan kebebasan beragama,” katanya.

Selain kota-kota di sekitar Jakarta tersebut, kota-kota lain seperti Banda Aceh, Serang, Mataram, Sukabumi, Banjar, dan Tasikmalaya juga menempati 10 peringkat terbawah dalam indeks kota toleran.

Sementara itu, kota-kota yang menempati 10 kota paling toleran di Indonesia adalah: Pematang Siantar, Salatiga, Singkawang, Manado, Tual, Sibolga, Ambon, Sorong, Pontianak, dan Palangkaraya. —Rappler.com

BACA JUGA: