Belajar dari Spanyol, Indonesia bisa manfaatkan pariwisata untuk perbaiki ekonomi

“Ekonomi Spanyol bangkit. Lihat saja kemacetan ini. Orang mulai membawa kendaraannya memenuhi jalanan,” kata Ketua Dewan Komisaris Kehormatan Volkswagen Carl Hahn, Jumat, 23 Oktober di Madrid, Spanyol.  

Bus yang saya tumpangi bersama Hahn dan sejumlah anggota dewan penasihat internasional IE Business School terjebak kemacetan di sekitar pusat kota Madrid. Kami baru saja kembali mengunjungi kampus Universitas IE di Segovia, kota kecil di utara Madrid, ibu kota Spanyol.

Ucapan Carl mengingatkan saya kepada dua hal. Pertama, Wakil Presiden Jusuf Kalla yang kerap menggunakan ukuran yang sama, mana kala mendapat keluhan soal kemacetan di kota besar, terutama Jakarta.  

“Macet pertanda ekonomi berjalan baik,” kata JK.  

Kedua, saya teringat berkunjung ke Spanyol saat negeri Matador ini dililit krisis, nyaris bangkut, pada 2012.  Perbankan perlu suntikan lebih dari 60 miliar dolar AS. Media mendiskusikan soal apakah Spanyol harus tetap bergabung dengan masyarakat Uni Eropa atau keluar dari UE, sehingga leluasa mengatur diri sendiri, termasuk mengatur mata uangnya.

Tiga tahun kemudian, Spanyol keluar dari krisis, bahkan mencatatkan pertumbuhan yang tergolong tertinggi di Eropa. Selain pembenahan sektor keuangan dan sejumlah insentif fiskal, ada sektor yang tak pernah absen dalam menopang ekonomi Spanyol, yaitu sektor pariwisata.  

Turis mancanegara dan domestik membuat ekonomi Spanyol masih bergerak. Sektor ini menyerap tenaga kerja sampai 12 persen dari total angkatan kerja yang ada dan menyumbang 10,9 persen dari produk domestik bruto 2014.

Forum Ekonomi Dunia (WEF) yang melakukan studi global sektor pariwisata, Mei 2015, meluncurkan laporan yang menyebutkan bahwa Spanyol adalah negara paling kompetitif di dunia. Untuk pertama kalinya, negeri ini berada di puncak dari 141 negara yang dianalisa dalam The Travel & Tourism Competitiveness Report.  

Laporan ini diterbitkan setiap dua tahun sekali oleh WEF, yang setiap tahun menggelar pertemuan tahunan pemimpin ekonomi dunia swasta di Davos, Swiss.  

Faktor yang dinilai ada 90-an, termasuk tujuan wisata baik yang warisan budaya kuno, infrastruktur, kebersihan, dan kesehatan, keamanan sampai penggunaaan teknologi baru. Spanyol memiliki keunggulan banyaknya situs warisan budaya.  

Perancis yang biasanya ada di puncak, kali ini tergeser ke posisi kedua, disusul Jerman, Amerika Serikat, Inggris, Swiss, Australia, Italia, Jepang dan Kanada. Laporan WEF juga menunjukkan bahwa Spanyol menerima turis mancanegara sebanyak 60,6 juta tahun 2015, terbanyak ketika di dunia setelah AS dan Perancis.

Indonesia yang berupaya meraih 8,8 juta pelancong mancanegara tahun ini ada di peringkat ke-50. Salah satu keunggulan Indonesia adalah soal harga biaya pariwisata yang bersaing. Ini juga kekuatan Spanyol, Malaysia, Mesir, dan Tunisia.

Melihat pengalaman Spanyol, maka apa yang dilakukan pemerintahan Presiden Joko “Jokowi” Widodo untuk mendorong pemulihan ekonomi, sebagian ada benarnya. Jokowi meluncurkan paket insentif untuk mendorong sektor pariwisata dengan membebaskan visa kunjungan untuk 45 negara. 

Pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK), misalnya, juga membuka peluang bagi orang asing yang secara rutin berkunjung ke Indonesia untuk dapat membuka rekening di bank nasional. 

“Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, dan pelambatan ekonomi, memerlukan aliran devisa masuk. Paling mudah dari sektor pariwisata,” kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Rizal Ramli, sesaat setelah bergabung dengan kabinet pada 12 Agustus 2015.

Selain bebas visa kunjungan, pemerintah juga menerbitkan menerbitkan dua peraturan baru tentang "yacht" dan "cruise" dalam upaya mendorong peningkatan jumlah kunjungan wisman. Menteri Pariwisata Arief Yahya optimistis tiga insentif itu bakal mendongkrak kunjungan wisata ke Indonesia.

"Kebijakan bebas visa kunjungan sementara tahap kedua ini langkah strategis meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) secara signifikan, setelah BVKS tahap pertama terbukti sukses meningkatkan kunjungan wisman 30 negara selama periode 10 Juni-9 Agustus 2015 sebesar 592.748 wisman atau meningkat 15 persen dibanding periode yang sama di tahun 2014 yang sebesar 514.171 wisman," kata Arief, seperti dikutip media. 

Perpres No. 104 tahun 2015 terbit pada 23 September 2015 tentang fasilitas Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS) bagi 45 negara, dengan tambahan tersebut saat ini negara yang bebas visa masuk ke Indonesia menjadi 90 negara.

Perpres mengenai yacht dan cruise misalnya, ditujukan memudahkan yacht asing untuk memasuki wilayah perairan Indonesia dalam pengurusan dokumen CIQP (Custom, Immigration, Quarantine, Port) di 18 pelabuhan. 

Kebijakan ini diproyeksikan meningkatkan jumlah kunjungan yacht ke Indonesia hingga 6.000 yacht pada 2019 sehingga menghasilkan devisa 600 juta dolar AS.

Pemerintah juga menambah pos pemeriksaan masuk Indonesia untuk memudahkan masuknya turis asing langsung ke tujuan, termasuk di Riau. Bencana buatan manusia berupa asap dari kebakaran hutan, pasti mempengaruhi minat dan kenyamanan wisatawan berkunjung ke provinsi yang terkena polusi asap. Ini hal yang tak pernah bisa dicegah, diantisipasi, dan karenanya lambat dicarikan solusi.

Lambatnya pembangunan infrastruktur ke tujuan wisata yang potensial juga membuat daya saing Indonesia belum sebaik negara lain dalam menarik kunjungan wisata. Termasuk kemudahan dan kenyamanan transportasi publik, seperti kereta api cepat dan bus.  

Spanyol memiliki semua itu dan sejak awal menjadikannya sebagai andalan untuk menopang sektor pariwisata, yang terbukti ampuh menjaga ekonomi tetap menggeliat di kala krisis. —Rappler.com

BACA JUGA:

Uni Lubis adalah seorang jurnalis senior dan Eisenhower fellow. Dapat disapa di @UniLubis