Tentara lakukan razia, sita pin berlogo palu arit di Semarang

Beberapa logo palu arit yang disita oleh tentara ketika melakukan razia di Kota Semarang pada Rabu malam, 11 Mei. Foto: Fariz Fardianto

Beberapa logo palu arit yang disita oleh tentara ketika melakukan razia di Kota Semarang pada Rabu malam, 11 Mei.

Foto: Fariz Fardianto

 

SEMARANG, Indonesia – Puluhan tentara dari Komando Distrik Militer 733/BS Semarang merazia atribut militer berlogo palu arit seperti pin dan topi baret, pada Rabu malam, 11 Mei, dari tangan pedagang barang antik setempat.

Razia dimulai sekitar pukul 23:00, ketika para tentara tersebut bergerak menyusuri lapak-lapak pedagang yang terletak di samping Gereja Immanuel di Kota Lama. Awalnya, mereka tidak menemukan apa-apa, sampai mereka tiba di lapak milik Syahrul, di mana mereka menemukan pin dan topi baret buatan Uni Soviet berlogo palu arit.

Ketika menemukan pin dan topi palu arit itu, para tentara langsung menuding Syahrul menyebarkan paham komunisme di Kota Semarang. Syahrul tidak menerima tudingan tersebut sehingga terjadilan cekcok kecil antara tentara dan Syahrul.

"Tapi pak, yang dilarang kan ideologinya bukan lambangnya pak," kata Syahrul saat digiring keluar lapak.

Tak terima dengan alasan yang diucapkan Syahrul, seorang tentara lantas membentaknya seraya berkata: "Pokoknya tetap barang ini dilarang."

Syahrul lalu mengungkapkan bahwa atribut militer miliknya itu diperoleh dari kenalannya yang bekerja sebagai pelaut dan suatu ketika menawarkan barang tersebut kepadanya. Dia membeli atribut tersebut seharga Rp 750 ribu.

Menurut Syahrul, dia membeli dua set pin militer dan topi baret dari kenalannya itu. "Sudah setahun belakangan ini saya simpan di lapak. "Jadi biasanya saya nitip gitu pak. Misal dia kemana, saya nitip pernak-pernik militer dari sana," katanya..

Meski begitu, ia enggan membeberkan identitas kenalannya itu dengan alasan menjaga keamanan yang bersangkutan.

"Daripada nanti beda persepsi makanya saya enggak jual kemana-mana," ujar lelaki asli Jakarta ini.

Di depan tentara yang terus menginterograsinya, Syahrul mengaku tidak akan mengulangi perbuatan itu. 

Sementara itu, Pasintel Kodim 733/BS Semarang Mayor Infanteri Arif Suhartono mengatakan akan mendalami temuan atribut berlogo palu arit tersebut sebab di lokasi kejadian pihaknya menemukan tujuh pin dan sebuah topi baret berlogo palu arit.

"Personel kami telah mengecek ke lokasi kejadian dan ternyata benar terdapat pin dan topi palu arit. Barang-barang ini kami sita dulu dan pedagangnya akan kami mintai keterangan lebih mendalam di Makodim," ujar Arif.

Personelnya tengah melacak keberadaan seorang pelaut yang menjual atribut-atribut militer itu kepada Syahrul. "Sejauh mana ia dapatkan barang itu dan siapa yang memberikannya sedang kita dalami terus," katanya.

Sentimen anti PKI merebak di Semarang

Sementara itu, sentimen negatif yang menyebut wilayah pinggiran di Semarang sebagai basis baru gerakan komunisme mulai merebak di tengah masyarakat.

Bahkan, Sekretaris Camat Tugu Hery Sutarko mengaku baru saja mendapat kiriman pesan pendek berantai yang mengajak warganya memerangi komunisme seperti tragedi 1965.

Isi pesan berantai berbunyi seperti ini "Kita pakai logika saja. Jangan nyalah-nyalahin orang, pakai logika. Yang memberontak siapa, yang membunuh duluan siapa, yang membunuh jenderal-jenderal TNI itu siapa. Masak yang dibunuh dan diberontak minta maaf. Sama saja saya, saya digebukin, babak belur, lalu saya minta maaf. Yang benar saja."

Dalam tulisan itu juga terpampang foto Menteri Pertahanan Ryamizard Ryakudu lengkap dengan seragam militernya.

Ia menyampaikan pesan berantai itu diposting ke grup internal perangkat kecamatan oleh Lurah Mangkang. Postingan itu pun beredar luas di kalangan perangkat kelurahan sejak 8 Mei 2016 melalui jejaring sosial Whatsapp. "Intinya paham anti PKI di grup kecamatan," katanya.

Meski begitu, sejauh ini situasi di Kecamatan Tugu masih relatif kondusif. Warga tidak terpengaruh dengan propaganda anti PKI dan memilih beraktivitas seperti biasa.

"Kita bingung harus mengklarifikasi kebenaran isu ini kemana karena tiba-tiba dapat kiriman pesan berantai," ungkapnya. – Rappler.com

BACA JUGA: