Video protes asap "Saya Marah" untuk Presiden Jokowi

JAKARTA, Indonesia—Seorang pria berambut cokelat dengan pipi tirus mengenakan masker lengkap berdiri di tengah kepungan asap. Sesekali ia bernapas dengan nada berat. 

Ia kemudian mengatakan dalam video itu bahwa ia marah atas bencana asap yang melanda kotanya. 

Ia bukan turis, melainkan Chanee Kalaweit, seorang aktivis lingkungan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. 

Video yang berdurasi tiga menit tersebut merupakan curahan hatinya sebagai aktivis, warga negara Indonesia (sejak tiga tahun lalu), dan seorang ayah.

Berikut penuturan lengkapnya: 

Pesan kepada Presiden Joko Widodo.

 

"Nama saya Chanee, saya berasal dari Eropa, tapi sudah tinggal 17 tahun di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Saya sangat bangga menjadi warga negara Indonesia tiga tahun lalu, karena saya sungguh-sungguh mencintai Indonesia. 

Tetapi Bapak Presiden, izinkan saya untuk hari ini menyampaikan kemarahan saya. Saya marah tidak hanya karena anak saya kena ISPA, seperti ratusan anak lain.

Saya marah tidak hanya karena ribuan orang sesak nafas dan menangis sambil berdoa dapat melihat matahari lagi. 

Saya marah tidak hanya karena alam dan hutan Kalimantan dihancurkan. 

Bapak Presiden, saya marah karena semua penderitaan ini dibuat demi industri minyak kelapa sawit.

Keputusan pemerintah sebelumnya, dan keputusan pemerintah yang sekarang, dengan sengaja menimbulkan masalah setiap tahun dan diperparah tahun ini dengan El Nino.

Di Kota Madya Palangkaraya saja, dari awal bulan Juni tahun ini, saya sudah ilustrasikan dari udara, puluhan kebakaran lahan demi ekspansi perkebunan kelapa sawit.

Pada saat itu, pada saat asap belum menjadi berita, semua titik api dapat dipadamkan. Tetapi itu tidak terjadi. Helikopter pemadam datang dua bulan kemudian.

Petugas-petugas di lapangan, sekuat-kuatnya mereka, tidak bisa berbuat banyak saat api sudah menjadi besar di lahan gambut. 

Pemilik lahan yang dibakar tidak akan kena sanksi.

Bapak Presiden, bukan saya yang akan memberitahukan Bapak kalau korupsi, kolusi, intimidasi, masih merajalela di sini dan di daerah lain, demi ekspansi industri perkebunan kelapa sawit. 

Saat Bapak Presiden membuat keputusan untuk membuat kanal-kanal baru di Kalimantan Tengah, Bapak membuat situasi menjadi lebih parah.

Kanal-kanal yang dibikin sesuai perintah Bapak akan mengeringkan hutan dan akan memastikan lahan akan semakin gampang untuk dibakar.

Bapak Presiden, saya marah, tetapi tidak hanya sebagai aktivis lingkungan. Saya marah sebagai ayah, suami, dan seseorang yang sungguh mencintai negeri ini. 

Pelan-pelan kesehatan kami dicuri oleh oknum yang menimbulkan situasi ini. Apakah ini yang diinginkan Bapak demi industri kelapa sawit?" —Rappler.com

BACA JUGA