Pemuda Syiah Sampang: Saya tidak berani ‘bertobat’

 

JAKARTA, Indonesia — Sebelum pengungsi Ahmadiyah di Bangka terusir dari kampung halamannya, pengungsi Syiah di Sampang sudah terlebih dulu mengalami trauma yang mendalam setelah rumah-rumahnya dibakar di Blu'uran dan Nangkernang, Madura. 

Intimidasi demi intimidasi diterima komunitas Syiah Sampang sejak 2011. Puncaknya pada 26 Agustus 2012, ketika mereka dipaksa mengungsi ke sebuah gedung olah raga di Sampang.

Pada 2013 lalu, pemerintah kemudian memutuskan untuk merelokasi mereka keluar dari Madura ke kompleks rumah susun di Desa Jemundo, Kecamatan Taman, Sidoarjo. 

Muhammad Zaini, seorang pemuda Sampang, yang mengikuti guru spiritual Syiah Sampang, Ustadz Tajul Muluk, sejak 2006, menuturkan bahwa tinggal di pengungsian selama tiga tahun merupakan saat-saat terberat dalam hidupnya.

Tapi bukan itu yang mengganggunya. Yang mengganjal di hatinya adalah ketika pemerintah dan otoritas setempat memintanya untuk "bertobat". Ia mengaku tak berani "bertobat". 

Apa alasannya? Rappler mewawancarai Zaini pada Senin, 15 Februari, kemarin usai ia mengikuti diskusi Kaukus Pancasila di gedung DPR RI.

Setelah tiga tahun terakhir, bagaimana kondisi pengungsi Syiah Sampang di sana? 

Kondisinya tidak ada perbedaan ketika pertama kali mengungsi hingga hari ini, hanya hidup ala kadarnya. 

Pemerintah, baik tingkat pusat dan daerah, maupun pihak-pihak yang lain, tetap tidak jelas.  

Sampai sekarang siapa yang membiayai hidup? 

Untuk biaya hidup, dari awal pemerintah itu memberikan yang namanya jatah hidup per orang Rp 709.000 selama satu bulan untuk hidup. 

Bagaimana negosiasi terakhir, masih mentok ingin pulang? 

Tetap. Permintaan yang paling mendasar dan paling diinginkan adalah pemulangan. 

Sejauh mana pemulangan itu diskenariokan oleh pemerintah? Kok sampai tiga tahun ini tidak ada proses. Gambaran pemulangan ini pun menjadi ambigu buat teman-teman di sana. 

Saya sendiri tetap dengan permintaan teman-teman di sana: Pulang. 

Hanya sampai hari ini, kami masih tetap menghormati sebuah proses upaya yang dilakukan pemerintah. 

Tiga tahun ini pernah Lebaran di Sampang? Atau ada kerabat dari Sampang menjenguk? 

Berkunjung ke Sampang tidak pernah, bahkan ada pelarangan dari pihak kepolisian. Ada ketakutan juga. Saudara di Sampang juga dilarang bertemu kami. 

Alasannya karena selain larangan dari kepolisian, masih ada oknum-oknum yang berkeliaran di sana, ditambah fatwa Majelis Ulama Indonesia di sana terkait Ustadz Tajul Muluk yang dijadikan rujukan Ketua Hakim Pengadilan Negeri Sampang.

Itu yang paling mendasar yang menjadi rujukan pemerintah untuk melarang pengungsi Syiah pulang ke Sampang. 

Ada tawaran keluar dari Syiah atau bertobat, tanggapannya? 

Tobat menurut mereka seperti apa? Boro-boro harus ada taubatan, memang selama ini pegangan mereka seperti apa? Saya kira saya tidak berani bertobat.  

Karena apa? Karena antara Syiah dan Ahlus Sunnah yang dikatakan Sunni itu tidak ada perbedaan. Apa sih yang mereka bedakan? 

Kenapa saya tidak berani mengatakan ada perbedaan? Karena kami salat menghadap kiblat ke barat, lalu kami melakukan rutinitas salat lima waktu, dan juga melakukan hal-hal yang lain seperti salat malam. Semua aktivtias yang dilakukan Sunni juga seperti tahlilan, mengunjungi kubur. 

Ketika kami diajak tobat, tobatnya seperti apa? 

Jadi apa yang membedakan Syiah dan Sunni? 

Sama dengan apa yang dikatakan oleh Rasulullah. Sunnah apa yang dilakukan oleh Rasulullah. Makanya saya bingung ketika ada yang mengatakan ada perbedaan, karena selama yang saya kenal, semua para Syiah itu mengakui para sahabat Nabi. 

Cuma kan mindset-nya karena Syiah itu bahasa yang baru muncul, dia mengatakan ini baru, padahal bukan baru. 

Soal ajaran Tajul Muluk?

Juga tidak ada ajaran Tajul Muluk. Kalau di Madura itu kan ada kyai, murid, lora (anak kyai), ada gus. 

Kami ini sifatnya buta lho, sama halnya ketika Rasulullah datang (pada zaman jahiliyah), kemudian ada petunjuk jalan menuju kebenaran. Rasulullah diutus untuk membawa umat ke alam terang benderang.

Nah, ada orang-orang yang dianggap layak diikuti sebagai petunjuk arah. Tajul Muluk bukan di-nubuat sebagai malaikat, nabi, tapi sebagai guru mengaji biasa. 

Dan di Madura itu sudah tidak asing lagi ketika anaknya disuruh mengaji ke salah satu tempat. 

Itu kan tradisinya seperti itu, kenapa dipermasalahkan? Jadi kami bingung kalau disuruh bertobat, bertobat seperti apa?—Rappler.com

BACA JUGA: