YLBHI: Aksi geruduk massa ke kantor LBH Jakarta dipicu informasi hoax

JAKARTA, Indonesia - Awan gelap kembali merundung demokrasi di Indonesia. Warga yang seharusnya dapat menyatakan pendapat secara bebas justru dipasung hanya karena mendapat stigma tertentu.

Dalam kasus ini, LBH Jakarta dicap ingin membangkitkan kembali paham komunisme di Tanah Air. Hal itu bermula dari kegiatan diskusi bertajuk ‘Pengungkapan Kebenaran Sejarah’ dan digelar Sabtu, 16 September dikira membahas mengenai paham komunisme dan PKI. Persepsi dan stigma itu muncul karena adanya informasi yang tidak jelas kebenarannya beredar melalui media sosial.

Hal itu dibenarkan oleh Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Asfinawati. Ditemui di kantor LBH Jakarta pada Minggu, 17 September, ia menegaskan jika diskusi yang akhirnya ditunda itu tidak berniat membahas mengenai komunisme, marxisme atau leninisme.

“Diskus kemarin itu membahas pelanggaran-pelanggaran HAM yang terjadi pada tahun 1965. Itu bukan semuanya mengenai PKI. Ini adalah sebuah kesalahan pola pikir yang luar biasa,” ujar Asfina.

Ia menduga penyebaran berita hoax yang menyebut seminar sejarah 65 sebagai kebangkitan PKI dilakukan oleh aktor-aktor yang tidak ingin agar kejahatan kemanusiaan 65 diungkap. Polisi yang seharusnya melindungi agar acara itu tetap berjalan, justru malah ikut membubarkan.

Dalam pandangannya, Asfinawati menilai pembubaran yang dilakukan polisi didasari ketakutan pemerintah terhadap pengungkapan peristiwa 65.

“Saya melihat pemerintah ini sepertinya ketakutan terhadap sebuah kegiatan akademis, takut dengan orang berpikir, takut dengan orang berpendapat, takut dengan orang menulis. Padahal, kemajuan suatu bangsa ditentukan dengan kemampuan orang berpikir, menulis dan melihat sejarahnya. Jadi, kalau diteruskan, saya yakin Indonesia tidak akan maju,” kata dia.

Ia mengatakan Preiden Joko “Jokowi” Widodo harus mencegah agar peristiwa seperti hari Sabtu kemarin tidak kembali terjadi. Sebab, dalam Nawacitanya, Jokowi berjanji akan menuntaskan kasus kemanusiaan yang terjadi di Indonesia, termasuk pembunuhan dan penghilangan orang.

“Karena kepolisian ada di bawah persis Presiden, maka Presiden harus memberi tahu Nawacita itu kepada Kapolri dan jajarannya. Sehingga, Nawacita tidak hanya menjadi kertas kosongnya Presiden dan dilaksanakan oleh seluruh bawahannya,” kata dia.

Saat ditanya kapan kira-kira acara seminar itu bisa digelar kembali, Asfinawati mengaku tidak dapat menjawabnya. Namun, ia menegaskan, penundaan seminar itu bukan berarti mereka gentar terhadap orang-orang yang tidak menginginkan kebenaran sejarah 1965.

“Tapi, ini kan kepanitiaan bersama. Jadi, ini tergantung panitia. Saya tidak bisa menjawab ini,” katanya.

Tetap digeruduk

Di kedua sisi LBH Jakarta/YLBHI dikepung massa pic.twitter.com/ae1rTrCOfF — LBH JAKARTA (@LBH_Jakarta) September 17, 2017

Sayangnya, massa tetap menggeruduk kantor LBH Jakarta pada Minggu malam kemarin. Mereka tetap meyakini acara yang dilakukan di kantor itu membahas mengenai kebangkitan komunisme.

Pasca acara seminar pengungkapan kebenaran 65 ditunda, LBH Jakarta kembali menggelar acara lain bertajuk #AsikAsikAksi. Acara itu diisi dengan penampilan seni, puisi, dan menyanyi dalam rangka keprihatinan atas pembubaran seminar pada Sabtu kemarin.

“LBH-YLBHI telah berulang kali menjelaskan bahwa tidak ada acara terkait PKI,” kata LBH Jakarta melalui keterangan tertulis mereka pada hari ini.

Tetapi, massa tetap bergeming dan tidak mau bubar hingga Senin dini hari tadi. Penjelasan serupa juga telah disampaikan mulai dari Kapolsek Menteng, Kapolres Jakarta Pusat, Kabaintelkam Mabes Polri dan Kapolda Metro Jaya.

“Mereka telah memberikan klarifikasi langsung usai melihat semua bahan dan mengawasi acara terus menerus. Akhirnya, mereka menjelaskan kepada massa bahwa tidak ada acara yang berkaitan sama sekali dengan PKI atau komunisme. Massa tetap tidak mau mendengar dan melawan aparat,” kata mereka.

LBH-YLBHI mengucapkan terima kasih atas respons dan perlindungan yang telah diberikan polisi. Lantaran digeruduk massa, publik yang ingin meninggalkan kantor LBH Jakarta sempat terjebak beberapa jam. - Rappler.com